Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juli 2012

DUA KISAH PEREMPUAN


“Bik Ros terlahir dengan beberapa cacat yang di sandangnya. Selain kaki sebelah kanannya pengkor, daya tangkap pikirannya juga sangat rendah. Bik Ros tidak bisa membaca dan menulis walaupun begitu tentu dulu Bik Ros di masukkan juga ke SD. Tiga tahun duduk di kelas satu SD tidak satupun pelajaran mampu diikutinya.”
***
Genap tiga bulan aku pulang dari perantauanku yang panjang. Kini aku berada dekat kembali dengan ibu dan akan dekat seterusnya karena telah kuputuskan pulang ke rumah selamanya. Menyudahi masa perantauanku yang hampir dua puluh tahun dengan sekali pulang dalam setahun yaitu ketika lebaran.  Aku anak tunggal. Ayah telah meninggal lima tahun lalu. Dan Bik Ros- adik perempuan ayah yang tinggal bersama kami  sejak aku masih bayi  itu pun telah meninggalkan kami untuk selamanya enam bulan yang lalu. Jadi selama tiga bulan sebelum kepulanganku ibu praktis hidup sendirian di rumah.
Bik Ros mengaku kepada  ibu bahwa telah berulang kali kejadian serupa  terjadi di siang hari selama bulan puasa itu.
Hari kedua lebaran suami Bik Ros meninggalkan rumah dan tak pernah kembali lagi hingga Bik Ros meninggal. Ibu dan ayah baru tahu beberapa hari kemudian jika suami Bik Ros mempunyai gangguan kejiwaan setelah pengakuan Lik Komar- kerabat jauh ayah yang dulu menjodohkan Bik Ros dengan laki-laki yang menjadi suaminya itu. Kata  ibu, ayah marah besar kepada Lik Komar sampai Lik Komar jarang berani bertandang lagi ke rumah.
“Bibimu juga sangat lama jika berada di kamar mandi. Entah apa yang dilakukan dan dipikirkannya di sana. Mungkin dulu lebih baik jika ia tidak usah menikah.”
***
Tentang Luka di Mata Ibu*

“Dan aku seperti tak hendak mengusik kediaman ibu, kupandangi terus sepasang matanya. Perlahan.., sangat perlahan kucoba mengeja apa yang samar terpancar dari sepasang mata ibu. Seperti kata-kata yang berlompatan kemudian berlesatan memutar-mutar mengerumuni sepasang mata ibu. Kata-kata yang lamat kutangkap seperti sajak-sajak dengan bunyi senyap.”
***
Tentang Luka di Mata Ibu*
“Dan aku seperti tak hendak mengusik kediaman ibu, kupandangi terus sepasang matanya. Perlahan.., sangat perlahan kucoba mengeja apa yang samar terpancar dari sepasang mata ibu. Seperti kata-kata yang berlompatan kemudian berlesatan memutar-mutar mengerumuni sepasang mata ibu. Kata-kata yang lamat kutangkap seperti sajak-sajak dengan bunyi senyap.”
***
“Dan aku seperti tak hendak mengusik kediaman ibu, kupandangi terus sepasang matanya. Perlahan.., sangat perlahan kucoba mengeja apa yang samar terpancar dari sepasang mata ibu. Seperti kata-kata yang berlompatan kemudian berlesatan memutar-mutar mengerumuni sepasang mata ibu. Kata-kata yang lamat kutangkap seperti sajak-sajak dengan bunyi senyap.”
***
“Rupanya itu kebiasaan burukmu di perantauan. Mandi malam-malam.”
Aku tersenyum kecut lalu menata meja dapur menyiapkan dua piring kosong, dua gelas kosong, serta seteko air putih.
“Aku menulis sajak Bu.” aku menjawab dan menatapnya sambil tersenyum Ibu membawa pinggan berisi hidangan dengan aroma menggiurkan itu ke meja dapur yang telah kutata.
Oiya masakan terancam ibu memang luar biasa. Rahasia sejatinya ada pada bumbu. Bumbunyalah yang membuat menu trancam itu terasa lain dari menu masakan lainnya. Ditaruh di atas cobek tanah besar adalah; garam secukupnya, tiga biji cabai rawit merah, satu  setengah siung bawang putih, seruas kencur lalu semua bumbu digerus halus, di tambahkan tiga lembar daun jeruk purut di gerus kasar saja dan rahasia bumbu terakhir adalah dicolok secuil  gula jawa.
“Kau seperti ayahmu. Jatuh cinta setengah mati kepada sajak-sajak sentimentil itu.” kata ibu setelah memasukkan suapan pertama ke mulutnya.
Ibu sejenak menggelengkan kepalanya dan tersenyum samar melihat mulutku yang penuh ditambah bunyi keriuk rempenyek beradu dengan gigiku yang kuat.
Misalnya tentang cuaca yang tiba-tiba berubah sekenanya. Atau tentang perkara-perkara yang membelit palu di sidang-sidang pengadilan tinggi itu, yang membuatnya sangat lambat untuk bisa mengetuk meja.  Juga tentang perkosaan-perkosaan biadab yang marak menimpa perempuan-perempuan naas, malam-malam di bis-bis kota atau di angkutan-angkutan umum itu, Bu.
“Jadi selama di perantauan kau terus menulis sajak?”
“Iya Bu, selama di perantauan aku terus menulis sajak.”
“Tentang segala hal itu?”
“Tentang segala hal itu.”
“Tahu kah kau ayahmu sangat suka menulis sajak?”
“Iya Bu, aku tahu.”
“Sedari dulu ayahmu selalu menulis dan menulis sajak.”
“Tapi mengapa hal itu membuat Ibu sedih?”
“Tidak...seandainya saja yang ditulisnya....”
“Ayahmu selalu menulis sajak tentang dia.”
“Dia siapa Bu...?”
***
Sambil menyelesaikan memasak di dapur, kubenahi lembar-lembar kertas yang berserak di meja dapur. Lembaran-lembaran yang berisi sajak-sajak. Sajak yang lahir dari lorong sunyi. Lorong yang menggemakan suara. Suara yang datang dari luka-luka di mata. Terpendam dalam ruang waktu yang telah sangat lama.
***
Jakarta, Januari-Juni 2012
*(bingkisan sederhana teruntuk ibundaku Siti Ngaisah yang bermukim di Blitar)  
Catatan:
1).pengkor; telapak kaki bagian atas menekuk kedalam menjadi tumpuan kaki/telapak kaki.
2) trancam;menu hidangan khas Jawa yang berisi sayuran yang serba mentah (di rajang lembut/kasar)di beri bumbu garam, cabai rawit merah, kencur, daun jeruk purut dan sedikit gula jawa, juga ditambahkan sedikit santan kelapa yang di peras dengan air matang hangat.
3) garang;  sama dengan panggang(setelah ikan dibungkus daun pisang lalu diletakkan dalam kuali tanah, di atas bara dalam tungku).
Catatan:
1).pengkor; telapak kaki bagian atas menekuk kedalam menjadi tumpuan kaki/telapak kaki.
2) trancam;menu hidangan khas Jawa yang berisi sayuran yang serba mentah (di rajang lembut/kasar)di beri bumbu garam, cabai rawit merah, kencur, daun jeruk purut dan sedikit gula jawa, juga ditambahkan sedikit santan kelapa yang di peras dengan air matang hangat.
3) garang;  sama dengan panggang(setelah ikan dibungkus daun pisang lalu diletakkan dalam kuali tanah, di atas bara dalam tungku).

Ada yang selalu kuingat dan kukenang atas keberadaan Bik Ros. Bik Ros dulu pernah menikah ketika tahun pertama aku di perantauan. Namun keadaanku yang serba sulit waktu itu tidak memungkinkan untuk pulang menghadiri pernikahannya- perempuan lajang yang pada saat menikah berumur empat puluh tahun lebih itu. Juga satu-satunya Bibi yang kupunya. Namun pernikahan Bik Ros hanya bertahan seumur jagung begitu ibu menyebutnya. Bik Ros dan suaminya berpisah lantaran suami Bik Ros di mata ibu dan ayah telah menyalahi syariat agama.
“Ia dengan paksa menggauli bibimu di siang hari bulan puasa. Waktu itu ibu dan ayahmu sedang pergi ke pasar membeli beberapa keperluan untuk lebaran.”
“Ia mengancam bibimu dengan sebilah pisau yang selalu tersengkelit di pinggangnya tanpa sepengetahuan kami .”
Setelah suami Bik Ros pergi dari rumah, ibu bergegas membawa Bik Ros ke tempat praktek bidan di kecamatan memeriksakan apakah ada kemungkinan Bik Ros mengandung. Dan ternyata hasilnya negatif. Hal itu sedikit melegakan hati ayah. Walau juga membuatnya geram.
“Entah bagaimana jadinya kalau ia mempunyai anak. Laki-laki keparat sakit jiwa seperti itu berani-beraninya menikahi adikku.”
Sejak itu Bik Ros menjadi sangat pendiam. Lebih suka mengurung diri sepanjang hari di dalam kamar.
Bik Ros terlahir dengan beberapa cacat yang di sandangnya. Selain kaki sebelah kanannya pengkor,  sedangkan telapak kaki bagian dalam menghadap ke atas--daya tangkap pikirannya juga sangat rendah. Bik Ros tidak bisa membaca dan menulis walau tentu dulu Bik Ros di masukkan juga ke SD. Tiga tahun duduk di kelas satu SD tidak satupun pelajaran mampu diikutinya.
Kemudian nenek  mengeluarkannya dari sekolah dan diajarinya Bik Ros mengaji. Kata ayah nenek menangis haru ketika Bik Ros bisa begitu lancar membaca huruf-huruf hijaiyah itu.
Jadi Bik Ros tidak buta huruf sepenuhnya. Ia bisa mengkhatamkan Juz Ama’ dan berlanjut ke Alqur’an sampai khatam pula.
Dan dalam kartu indentitasnya-hingga kini- aku selalu mengeja namanya yang terbubuh dengan  huruf arab sebagai tanda  tangannya.
Setelah berganti pakaian sehabis mandi aku keluar kamar menuju dapur. Ibu tengah menyiapkan santap malam kami. Melihat rambutku yang basah ibu menegurku.
“Apa yang kau tulis. Kulihat sejak kau pulang kau terus menulis.”  tanya ibu sambil tangan kanannya mengangkat hidangan dari wajan dan menempatkannya ke sebuah pinggan yang di pegang di tangan sebelah kirinya.
Alamaaak...aromanya sungguh lezat dan nikmat. Kau tahu, masakan ibu selalu enak sejak dulu. Malam ini ibu menyiapkan menu kesukaanku- pepes ikan asin pedak garang dan trancam2  yang berisi; daun beluntas yang di rajang lembut, daun kenikir, juga kacang panjang  yang juga di rajang lembut, cacahan mentimun berikut isinya lalu diberi taburan butiran lamtoro atau yang biasa disebut petai cina yang telah di pisahkan dari kulitnya.. Dilengkapi dengan taburan daun kemangi, menu yang semuanya serba mentah itu meruapkan aroma segar, pedas juga semerbak. Juga tak lupa di beri kuah santan sedikit yang diperas dengan air matang hangat. Santannya cukup sedikit saja sekadar membuat bumbu dan semua bahannya supaya menyatu, meresap, memadukan rasa sedap. 
Kemudian semua bahan sayuran tadi di tempatkan di wajan- supaya tidak tercecer kemana-mana- lalu bumbu yang sudah di gerus dimasukkan, setengah tinggi gelas santan yang diperas dengan air matang hangat dituangkan,  diaduk hingga semua bahan dan bumbu juga santan bercampur. Lalu trancam pun siap disantap. Aroma wangi yang khas dan sedap segera meruap. Aroma yang ditimbulkan oleh kencur dan daun jeruk yang berpadu dengan sayuran segar itu selalu membangkitkan selera seperti sesuatu yang menagihkan, yang selalu kurindukan. Menu yang  menurutku sangat pas untuk disantap ketika petang atau sebagai santapan malam itu tak pernah kujumpai ketika di perantauan.
Kami memulai santap malam. Perasaanku damai dan gembira. Piringku terlihat penuh sementara piring ibu isinya separuh dari piringku. Kelihatan kan betapa rakusnya aku hehehe... Ditambah pula, masih di atas meja tempat santap malam kami- tepatnya di dekat teko air putih- setoples penuh berisi rempeyek kacang tanah renyah buatan ibu dengan taburan daun jeruk purut yang di rajang kasar, siap menyemarakkan santap malam kami
“Maka dari itu aku bangga pada ayah, Bu. Apakah Ibu tidak? Lagian kan sajak-sajak itu tidak melulu sentimentil Bu.” 
“Apa tidak ada keinginanmu untuk menikah selain menulis sajak-sajak sentimentil itu?” ibu tidak menjawab pertanyaanku.
“Tentu aku akan menikah Bu. Nanti jika waktunya telah tiba. Ibu doakan ya. Dan lagi pula sajak-sajakku tidak melulu sentimentil kok Bu. Coba Ibu nanti membacanya pasti Ibu akan bisa merasakan nuansa rasa yang berbeda-beda... 
Atau juga tentang tragedi baru-baru ini, pembantaian keji di Mesuji. Dan tindak kekerasan yang diterima warga sipil di tanah jauh sana di Sape,  Bima. Juga tentang kisah-kisah memedihkan lainnya, Bu. Seperti hukuman mati yang diterima para TKI kita di Arab Saudi juga di negara-negara lainnya. Yang sering kali luput dari perhatian pemerintah kita, Bu. Atau jikalau toh ada upaya pembelaan, seringkali datangnya terlambat. Sehingga para TKI yang menjadi korban itu hanya bisa memulangkan nama dan jasad yang telah menjadi mayat.”
Ibu terdiam. Lalu kami melanjutkan santap malam dalam diam. Entah, barangkali kami larut dalam perasaan kami masing-masing. Lalu setelah perlahan menelan suapannya, ibu menatapku lama. Kulihat di piringnya masih sedikit tersisa santap malamnya. Sementara aku yang bagai kerakusan telah melicin-tandaskan piringku. Masih kutambah lagi dengan mengunyah rempeyek renyah kacang tanah buatan ibu.
Ibu menyandarkan tubuhnya yang kurus berbalut kebaya berbahan katun bercorak kembang-kembang kelopak ungu ke sandaran kursi kayu di belakang tubuhnya. Rambutnya yang panjang dan telah memutih di beberapa bagian itu disanggul dengan rapi, ditahan dengan sebuah tusuk konde dengan warna tembaga dimana bagian ujung atasnya yang mencuat dari sanggulnya ada sebuah bulatan sebesar kemiri.
Kulihat ibu yang masih diam dengan mata menerawang. Kuamati garis wajahnya yang lembut bersahaja yang kini telah mengerut di beberapa bagian kulit permukaannya. Ada sebuah tahi lalat bertengger manis di atas garis bibir  ibu- sebelah kanan lekukan  bibir atas ibu tepatnya.  Dan aku seperti tak hendak mengusik kediaman ibu, kupandangi terus sepasang matanya. Perlahan... sangat perlahan kucoba mengeja apa yang samar terpancar dari sepasang mata ibu. Seperti kata-kata yang berlompatan kemudian berlesatan memutar-mutar mengerumuni sepasang mata ibu. Kata-kata yang lamat kutangkap seperti sajak-sajak dengan bunyi senyap.  Lalu perlahan seperti membentuk guratan luka yang sebentar timbul sebentar mengendap. Ada apa ini? Ah, aku pasti ngelantur seperti biasanya berharap bisa lahir anak-anak sajak berikutnya....ahhh.
Tiba-tiba ibu sersuara lirih.. sangat lirih.
Ibu terdiam kembali. Dengan mimik yang begitu sedih ia menatapku. Seketika aku merasa seperti ada sesuatu yang salah, tersembunyi, atau sebuah dugaan tiba-tiba muncul. Apakah semasa hidup ayah telah menyia-nyiakan ibu tanpa sepengetahuanku. Apakah ayah pernah berselingkuh dengan wanita lain dan ibu diam-diam mengetahuinya. Atau apakah ayah...
Nafasku mendadak seperti tercekat. Detak jantungku berubah cepat kemudian memburu. Dan semakin memburu ketika bulir-bulir bening dari kelopak mata ibu perlahan bergulir dan pecah membentuk garis tipis yang basah di kedua belah pipi ibu. Lalu suara ibu terdengar bagai datang dari lorong yang asing dan jauh. Sangat jauh. Begitu perlahan lalu berubah seperti irama sedih yang menggelombang.
“Dia adalah perempuan yang telah mengandungmu…yang meninggal kehabisan darah beberapa menit setelah melahirkanmu. Dan aku- ibumu ini, adalah saudara misan dari ibu kandungmu. Aku telah menjadi yatim piatu sejak usia dua belas tahun- ketika kedua orang tuaku yang waktu itu- dituduh terlibat dalam peristiwa gestapu di bunuh di depan mataku. Kemudian nenek dari ibumu mengambilku untuk diajak tinggal bersama. Sejak itu aku dan ibumu tumbuh bersama. Kebetulan usia kami juga sebaya. Ibumu perempuan yang sangat cantik, anggun, dan baik hatinya. Namun selalu sakit-sakitan. Dan ayahmu sangat mencintainya...hingga sepanjang hidupnya.”
Air mataku telah lama runtuh begitu pula air mata perempuan arif dihadapanku itu juga terus menderas jatuh. Sepasang matanya yang tadi menggurat luka itu kini bagai tersaput tirai bening. Seperti kata-kata yang berusaha menyampaikan suara  dari kedalaman hati paling hening. Kuangsurkan kedua tanganku merengkuh jemarinya dengan perasaan bergetar. Kugenggam dengan kencang lalu kuangkat perlahan, kubawa kearah bibirku, kukecup kulit-kulit yang mengeriput itu dengan hati yang basah membuncah...seiring bulir-bulir airmata kami yang kian pecah.
Dari bingkai jendela kayu dapur, kuletakkan pandanganku ke kebun disamping  kanan rumah. Ibuku dengan kepala ditudungi sebuah kupluk warna ungu cerah, berbalut kebaya bermotif kelopak bunga-bunga warna senada, dengan bawahan kain jarit panjang bercorak batik sidomukti, terlihat khusyu’ memetik cabai rawit merah. Tak jauh dari tempatnya berdiri sebuah bakul dari anyaman bambu teronggok diatas jajaran pohon nanas, penuh berisi petikan daun-daun beluntas, daun kenikir, lamtoro, dan petikan daun kemangi. Seekor prenjak hinggap di cabang batang kopi beberapa jengkal dari ibu berdiri.
Telah kususun sebuah rencana; makan malam kami kali ini kembali dengan menu trancam, pepes ikan asin pedak yang tengah kugarang, rempeyek kacang tanah buatanku dilengkapi sepoci teh tubruk dengan pemanis gula batu. Aku telah mengambil alih tugas masak-memasak di dapur dengan ibu setia mengajariku segala rahasia dapur. Dan sambil makan malam nanti akan kukisahkan pula tentang sajak-sajak. Sajak cinta khusus kubuat untuk ibu. Perempuan penuh cinta itu.

Kamis, 19 Juli 2012

SI MBAH


Sudah dua puluh empat tahun dilewati si mbah untuk bekerja sebagai pengasuh anak di rumah Keluarga Suseno. Gaji yang diterimanya tidak pernah tinggi, cukup saja, tetapi perlakuan baik dan penuh tepa salira dari seluruh keluarga itu yang telah memberinya rasa aman, tenang dan tentram. Buat seorang yang sudah tua apalah yang dikehendaki selain atap untuk berteduh dan makan serta pakaian yang cukup. Lagi pula ia sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Adik laki-laki satu-satunya kini sudah hidup mapan di Kalimantan bersama istri dan kedua anaknya.

Masa kecil si Mbah sangatlah bahagia, ia terlahir dari keluarga berada. Si Mbah dilahirkan pada tanggal 9 Juli 1954 di Wates Jogjakarta. Nama kecilnya Haryati, ayahnya seorang yang terpandang di desanya yang serba tercukupi dari hasil sawah dan kebun kelapa yang menghampar luas. Namun kebahagian seakan berlalu begitu saja ketika ia berumur delapan tahun ia dipaksa menyaksikan pengalaman hidup dari sebuah keluarga yang hancur. Ia baru pertama kalinya menyaksikan pertengkaran dalam sebuah keluarga yang sangat hebat.Walaupun ia tidak mengerti apa yang kedua orangtuanya permasalahkan, namun kejadian saat itu ia terus mengingatnya ketika keluarga yang harmonis itu harus bercerai. Sementara adiknya saat itu masih dalam kandungan.

Kemudian si Mbah dan ibunya memilih tinggal bersama pakdenya. Pakde yang mengurusi segala keperluannya saat itu karena memang keluarganya terlahir dari keturunan priyayi maka kebutuhan hidup sehari-hari sangatlah tercukupi dari sawah yang luas, kebun serta peninggalan warisan dari leluhurnya. Maka tak heran jika si Mbah mempunyai bekal pendidikan yang cukup dibanding anak lainya.
Setelah tamat pendidikan dasar si mbah kemudian melanjutkan ketingkat menengah dan lulus tahun 1970, tidak sampai disitu, karena memang didukung penuh oleh keluarga agar menuntut ilmu serta kemauan dan cita-cita pada akhirnya setamat SMP si mbah melanjutkan ke sekolah pendidikan guru. Pikirnya dari sanalah awal kehidupanya akan menghantarkan pada cita-cita yang mulia. Sambil menikmati masa remaja dan gurau seperti layaknya seorang gadis lugu ia penuh semangat atas limpahan kebahagian biarpun tanpa kehadiran seorang ayah. Namun garis hidup terkadang meleset dari apa yang dicitakan.
Ketika umur si Mbah baru menginjak enam belas tahun, ibunya merasa khawatir akan putrinya itu dan bermaksud menjodohkan pada seorang laki-laki yang sudah mapan dan berkecukupan. Pikirnya, jika anak perempuannya itu segera menikah maka akan sedikit mengurangi kekhawatiran dan tanggungjawab seorang ibu dalam membesarkan anaknya. Dari sisnilah awal perjalanan si Mbah dimulai. Mendengar akan dinikahkan sepontan saja si Mbah menolak karena dengan alasan  ingin menyelesaikan sekolah terlebih dulu disamping itu  juga ia tidak mencintai laki-laki yang bukan pilihanya itu. Si Mbah pada akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah. Dengan bekal darah mudanya serta cita-citanya ia kemudian nekat untuk pergi ke Jakarta.
Sampai di Jakarta si Mbah tinggal numpang pada kerabatnya, dan ia kini tidak memperdulikan lagi dengan kehidupannya saat itu adalah bagaimana supaya menghindari pernikannya. Dengan bekal ijazah terakhirnya SMP mungkin sangtlah sulit dalam mencari kerja apalagi dikota besar seperti Jakarta. Untuk menambah keahliannya maka ia kemudian mencari kursus pengasuh anak atau baby sitter selama enam bulan. Barulah kemudian ia mendapati pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dengan menjadi baby sitter dalam sebuah keluarga pejabat. Dari sinilah pengalaman pertamanya menjadi seorang babay sitter. Hari demi hari si Mbah lalui dengan suka cita ia bekerja tanpa mengenal lelah, raut wajahnya masih tergambar betapa ia sangat merindukan keluarganya di kampung, bahkan ibunya sendiri sudah memaklumi kemauan dan keinginan si Mbah untuk kembali pulang namun kekecewaan terhadap cita-citanya untuk menjadi seorang guru yang terkalahkan oleh keinginan orang tua akhirnya memupus cita-cita dan harapannya,  menggumpal menjadi sebuah pengalaman hidup yang berkepanjangan.
Sampai suatu sudut yang sedikit terang oleh cahaya, seakan memompa semangat yang sudah sekian lama hilang akhirnya si Mbah menemukan pilihan hidupnya pada seorang laki-laki gagah. Perkenalanya diawali dari sebuah perjalanan Jakarta dan Jogja. Laki-laki tersebut masih kuliah sementara keluarganya jauh di seberang. Empat tahun lamanya si Mbah menjalin kisah dengan sang kekasih hingga merasa sudah ada kecocokan akhirnya si Mbah memperkenalkan laki-laki pilihanya itu pada ibu dan pakdenya. Mendengar keseriusan si Mbah dan laki-laki pilihanya itu ibunya seakan merasa bersalah kalau menolak keinginan anak perempuanya itu, dan akhirnya merestui hubungan keduanya.
Angin pun berhembus pelan, pagi itu sahutan tukang pos membuat si mbah yang sedang mencuci piring bergegas menemui tukang pos karena seperti biasa tukang pos yang sering ia pergoki pasti membawa kabar dari Jogja. Memang benar amplop yang berwarna putih itu beralamatkan yang sama yang sering ia temui. Namun, begitu amplop itu dibukanya raut wajah si mbah yang sedari tadi sumringah kini mendadak menjadi pucat, keningnya mengkerut, bola matanya sedikit layu tak kuasa membendung kekecewaan sekaligus kesedihan. Ketika ia membaca surat yang hanya beberapa baris saja yang intinya dengan tanpa alasan yang  jelas untuk memutuskan hubungan mereka yang sudah empat tahun lamanya mereka jalin. Sambil duduk tersimpuh air mata si mbah membasahi kertas surat yang baginya bagaikan wahyu yang hilang mengguncang hatinya. Ia membayangkan wajah ibunya bagaimana malunya nanti ia katakan didepan keluarganya bahwa ia tidak jadi menikah, sungguh kejadian yang baginya ibarat ditusuk takdir yang ke dua kali dalam kehidupanya dan saat itu usianya tepat 29 tahun.
Maka untuk mengobati kepedihanya itu ia tidak menolak perintah majikanya agar ia bersedia ikut kedua anak majikanyan ke Inggris. Karena memang disamping anak laki-laki majikannya yang kuliah di Inggris, si mbah juga ikut bersama anak perempuan yang sudah berkeluarga dan menetap di Inggris. Dua tahun lamanya si mbah berada di Inggris sembari membawa luka dan kepedihan yang semakin jauh ia melangkah bukannya semakin menutupi luka hatinya malah menjadi bayang-bayang di sudut matanya yang rapuh. Kabar terakhir yang sampai padanya bahwa kini laki-laki yang sempat singgah di hatinya itu telah menikah.
Sepulang dari Inggris barulah kemudian si mbah menetap dengan keluarga Suseno yakni anak kedua dari majikan pertama. Di rumah keluarga Suseno ini ia mendapat semuanya. Tetapi waktu dia mulai merasa semakin renta, tidak sekuat sebelumnya, si mbah merasa menjadi beban keluarga itu. Dia merasa menjadi buruh tumpang gratis terlebih ke tiga anak majikannya sudah mulai tumbuh dewasa tinggal si bungsu yang usianya masih empat tahun yang masih ia asuh. Yang paling besar kini ia sedang kuliah di Amerika dan yang kedua sudah mulai beranjak dewasa. Ketiga anak majikanya itu ia asuh sebagaimana anaknya sendiri. Ia sudah mengabdi pada majikanya itu selama separuh dari hidupnya maka pikirnya tak ada alasan lagi untuk tidak pulang ke desanya.
Dia masih memiliki warisan sebuah rumah dan juga tegalan dan baginya cukup untuk dijadikan tempat tinggal di hari tua. Maka dikemukakanya ini pada majikanya. Majikanya beserta seluruh anggota keluarganya, protes keras dengan keputusan si mbah.
‘’Si mbah sudah menjadi bagian yang nyata dari rumah tangga ini,’’ kata Suseno sambil meletakkan kacamatanya.
‘’Dan siapa yang mendampingi Ari dan Aira yang sudah beranjak dewasa," desah istri Suseno.
‘’Wah, sepi loh mbah kalau tidak ada kamu. Lagi siapa yang mendongeng sebelum tidur selain mbah," tukas Aira dan Ari.
"Pokoknya keluarga ini tidak mau ditinggalkan oleh si mbah, anggap saja keluarga ini sudah menjadi bagian dari Mbah sendiri. Apakah si mbah tidak kangen sama Reza yang bulan depan sudah mau di wisuda," kembali Suseno menimpali.
‘’Inggih doro,’’ Si Mbah menimpali.
‘’Pasti den Reza sekarang sudah besar, kangen sudah tiga tahun tidak berjumpa.’’
’’Memangnya nanti kalo ketemu si mbah mau gendong?’’
’’Wah, doro ini ada-ada aja tapi siapa takut,’’sambil menyingsingkan lengan baju si mbah mengangkat kedua tanganya sembari tersenyum simpul.
’’Bener ni mau gendong,’’jawab Suseno yang dari tadi mendengarkan percakapan keduanya.
’’Ada juga Reza yang nanti gendong si mbah,’’sahut isteri Suseno. Malam itu semua tertawa renyah mengiringi semilir angin yang membawa kebahagian.

Si Mbah inget betul bagaimana Reza anak majikannya itu ia asuh dari kecil sampai dewasa dalam hatinya ia ingin melihat bagaimana anak asuhnya itu menjadi berhasil dan sukses mengejar cita-citanya, si mbah sudah menganggap Reza adalah anaknya sendiri. Hingga jauh malam mereka tawar-menawar. Akhirnya diputuskan suatu jalan tengah. Si mbah akan pulang ke desanya kapan pun kalau ia mau terlebih jika hari raya Sekaten dan Idul Fitri untuk mengunjungi sanak sudaranya di Jogja setelah itu ia harus kembali ke keluarga Suseno di Jakarta. Mereka lantas setuju dengan jalan tengah itu. Walaupun memang setiap dia pulang kedesanya, si Mbah selalu kesulitan untuk melepaskan dirinya dari pelukan Aira dan Ari.
Yang menarik dari orang tua renta itu adalah ia masih kuat ikut menyiapkan segala masakan semalam suntuk. Dan semuanya masih dikerjakanya dengan sempurna. Opor ayam, sambal goreng ati, lodeh, sayur asem, dan kadang-kadang masak spaghetti atau sup macaroni. Dari mana enerji itu datang pada tubuh orang tua itu tidak seorang pun dapat menduganya.
‘’Mbah, besok jangan lupa siapkan semua keperluan anak-anak karena di Amerika sekarang sedang musim dingin,’’sahut istri Suseno sembari membuka lemari pakaian.
Ketika keluarga Suseno dan si Mbah sampai di Amerika dua hari sebelum acara wisuda Reza di Indiana Police, keluarga tersebut menyempatkan untuk jalan-jalan. Amerika Serikat memang sangat terkenal dengan dunia hiburan yang menarik seperti Honolulu, Disneyland Anaheim, Las Vegas, Universal Studio dan Holliywood di Los Angeles, San Francisco, Orlando dengan Disney World. Apa lagi Las Vegas bener-bener kota judi, dimulai dari airport sampai ruang tunggunya pun airport ada Jackpotnya.
Keluarga Suseno menginap di Hotel Excalibur, salah satu hotel yang terkenal di Las Vegas yang terkenal dengan rate hotelnya yang terjangkau untuk menginap, makanan yang murah dan keamanan selama 24 jam seperti hotel Excalibur tempat si Mbah menginap. Di samping itu ada pertunjukan naga yang muncul dari kolam, pada jam tertentu ada arak-arakan kerajaan diiringi dengan para pengawal dan juga sirkus. Sudah dapat dipastikan Aira dan Ari saking senangnya biarpun cuaca sangat dingin mereka tetap saja tidak menghiraukanya untuk menyaksikan pertunjukan. Sungguh hal yang menakjubkan melihat kota yang terletak didaerah gurun bisa gemerlap dan seakan tidak pernah tidur. Las Vegas memang benar-benar kota judi. Meski Genting Highland, Macau, dan Monte Carlo terus berbenah, hingga saat ini kebesaran Las Vegas sebagai kota judi belum tertandingi.
Saat semua keluarga Suseno sedang beristirahat kemudian si Mbah meminta ijin untuk jalan-jalan keluar hotel, Suseno pun mengijinkan permintaan si mbah karena memang mereka sudah ke empat kalinya mengunjungi Las Vegas sehingga si Mbah sudah tau betul tempat-tempat untuk mencari ketenangan ditengah-tengah hiruk pikuknya kota. Langkah kakinya yang tenang melangkah sesekali memeluk erat jaket kulitnya ia menyusuri kanal yang menghubungkan ke taman kota yang tidak jauh dari hotel tempatnya menginap. Ia kemudian duduk dibawah pohon sambil melepaskan pandangannya yang kosong. Ia sungguh tidak mengira akan kembali ketempat yang sama  yang empat tahun lalu ia ke Amerika untuk untuk mengantarkan Reza kuliah, tapi ia kini kembali untuk melihat Reza wisuda. Jika saja ia mempunyai anak mungkin sudah sebesar Reza tapi itu hanya angan-angan saja pilihannya untuk tidak menikah karena trauma masa lalunya yang kelam membawa pada  perjalanan hidupnya yang sekarang.
Sudah banyak negara yang ia datangi sembari menemani keluarga Suseno dalam berlibur maupun tugas kantor namun hal itu tidak bisa melupakan kisah perjalanan masa lalunya. Semakin ia pergi jauh bukanya dapat melupakan kenangan-kenangan buruk yang pernah ia alami melainkan menambah gusaran kegelisahanya selama ini tetang hidup. Dimulai Italia, Perancis, Singapura, Belanda, Australia dan perjalanan yang terakhir yang seumur hidup ia takan melupakanya yaitu umrah ketanah suci Makah. Hal yang mungkin segala kepahitan hidup yang ia jalani seorang diri namun toh Tuhan masih berbaik hati padanya dengan pelukan dan perhatian keluarga Suseno ia tidak merasa sendiri bagi si Mbah, keluarga Suseno sudah ia anggap keluarganya. Senyuman anak-anak baginya sudah cukup untuk mengobati kesendirian ditengah-tengah keramaian.
Hari mulai gelap, salju pun turun. Sementara si Mbah masih duduk di bawah pohon sesekali ia melihat orang yang lalu lalang didepanya. Ia melihat nenek tua yang baru saja keluar dari kasino kemudian berjalan dan duduk disebelahnya. Rambutnya yang putih mungkin umurnya tidak jauh berbeda dari si Mbah. Terlihat dalam matanya nenek tua itu menyimpan pertanyaan, kelopak matanya sayu seakan mengisyaratkan hal yang sma yakni kesepian. Sesekali si Mbah dan nenek tua itu terlibat dalam pembicaraan. Nenek tua itu menceritakan bahwa ia datang hanya untuk main jackpot beberapa kali kemudian pulang, tidak perduli menang atau kalah, seakan-akan hal itu sudah menjadi rutinitas sehari-hari seperti berolahraga atau rutinitas minum vitamin saja. Si Mbah hanya tersenyum saja mendengar kisah nenek tua itu, baginya permasalahan yang dihadapi semua orang sama saja yang membedakanya hanyalah warna kulit, ruang dan waktunya.
Sementara itu dari kejauhan terlihat ada laki-laki tinggi besar berkacamata menghampiri. Si mbah rupanya kenal dengan laki-laki itu ya tidak salah lagi ia adalah Reza. Si Mbah pun langsung memeluk erat seakan mengalahkan rasa sepinya, sementara Suseno hanya melihat dari kejauhan ia sangat merasakan perasaan si mbah. Ia melihat Reza menggendong si mbah. Suseno pun teringat hal yang sama yakni dua puluh tahun yang lalu ketika Reza masih kecil dan dalam asuhan si mbah. Mungkin Reza merasa berterimakasih kepada yang selama ini mengasuhnya. Ia tahu bahwa si Mbah tidak punya siapa-siapa selain pelukan kehangatan dari sebuah keluarga. Gemerlap lampu-lampu  sepanjang kanal menghiasi suasana kehangatan hati si Mbah, ia terhanyut dengan kebahagian yang tidak bisa ditawar dengan apa pun yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan di sudut hatinya yang dingin, sedingin salju yang turun membasahi relung hati si Mbah.

SEORANG RAJA DAN NELAYAN



Seorang nelayan memberikan ikanKerajaan yang dialiri oleh sungai Tigris dan Euphrates pernah di perintah oleh seorang raja yang sangat gemar dan menyukai ikan.
Suatu hari dia duduk bersama Sherem, sang Ratu, di taman istana yang berhadapan langsung dengan tepi sungai Tigris, yang pada saat itu terentang jajaran perahu yang indah; dan dengan pandangan yang penuh selidik pada perahu-perahu yang meluncur, dimana pada satu perahu duduk seorang nelayan yang mempunyai tangkapan ikan yang besar.
Menyadari bahwa sang Raja mengamatinya, dan tahu bahwa sang Raja ini sangat menggemari ikan tertentu, nelayan tersebut memberi hormat pada sang Raja dan dengan ahlinya membawa perahunya ketepian, datang dan berlutut pada sang Raja dan memohon agar sang Raja mau menerima ikan tersebut sebagai hadiah. Sang Raja sangat senang dengan hal ini, dan memerintahkan agar sejumlah besar uang diberikan kepada nelayan tersebut.
Tetapi sebelum nelayan tersebut meninggalkan taman istana, Ratu berputar menghadap sang Raja dan berkata: "Kamu telah melakukan sesuatu yang bodoh." Sang Raja terkejut mendengar Ratu berkata demikian dan bertanya bagaimana bisa. Sang Ratu membalas:
"Berita bahwa kamu memberikan sejumlah besar hadiah untuk hadiah yang begitu kecil akan cepat menyebar ke seluruh kerajaan dan akan dikenal sebagai hadiah nelayan. Semua nelayan yang mungkin berhasil menangkap ikan yang besar akan membawanya ke istana, dan apabila mereka tidak dibayar sebesar nelayan yang pertama, mereka akan pergi dengan rasa tidak puas, dan dengan diam-diam akan berbicara jelek tentang kamu diantara teman-temannya."
"Kamu berkata benar, dan ini membuka mata saya," kata sang Raja, "tetapi tidakkah kamu melihat apa artinya menjadi Raja, apabila untuk alasan tersebut dia menarik kembali hadiah yang telah diberikan?" Kemudian setelah merasa bahwa sang Ratu siap untuk membantah hal itu, dia membalikkan badan dengan marah dan berkata "Hal ini sudah selesai dan tidak usah dibicarakan lagi."
Bagaimanapun juga, dihari berikutnya, ketika pikiran sang Raja sedang senang, Ratu menghampirinya dan berkata bahwa jika dengan alasan itu sang Raja tidak dapat menarik kembali hadiah yang telah diberikan, dia sendiri yang akan mengaturnya. "Kamu harus memanggil nelayan itu kembali," katanya, "dan kemudian tanyakan, 'Apakah ikan ini jantan atau betina?' Jika dia berkata jantan, lalu kamu katakan bahwa yang kamu inginkan adalah ikan betina, tetapi bila nelayan tersebut berkata bahwa ikan tersebut betina, kamu akan membalasnya dengan mengatakan bahwa kamu menginginkan ikan jantan. Dengan cara ini hal tersebut dapat kita sesuaikan dengan baik."
Raja berpendapat bahwa ini adalah jalan yang terbaik untuk keluar dari kesulitan, dan memerintahkan agar nelayan tadi dibawa ke hadapannya. Nelayan tersebut, yang ternyata adalah orang yang sangat pandai, berlutut di hadapan raja, sang Raja berkata kepadanya: "Hai nelayan, katakan padaku, ikan yang kamu bawa kemarin adalah jantan atau betina?"
Nelayan tersebut menjawab, "Ikan tersebut bukan jantan dan bukan betina." Saat itu sang Raja tersenyum mendengar jawaban yang sangat cerdik, dan untuk menambah kejengkelan sang Ratu, memerintahkan bendahara istana untuk memberikan sejumlah uang yang lebih banyak kepada nelayan tersebut.
Nelayan pergi dengan membawa sekantong uangKemudian nelayan itu menyimpan uang tersebut dalam kantong kulitnya, berterima kasih kepada Raja, dan memanggul kantong tersebut diatas bahunya, bergegas pergi, tetapi tidak lama kemudian, dia menyadari bahwa dia telah menjatuhkan satu koin kecil. Dengan menaruh kantong tersebut kembali ke tanah, dia membungkuk dan memungut koin itu dan kembali melanjutkan perjalanannya, diikuti dengan pandangan mata Raja dan Ratu yang mengawasi semua tindakannya.
"Lihat! betapa pelitnya dia!" kata Sherem, sang Ratu, dengan bangga atas kemenangannya. "Dia benar-benar menurunkan kantongnya hanya untuk memungut satu buah koin kecil karena mungkin dia akan sangat merasa kehilangan hanya dengan berpikir bahwa koin tersebut akan diambil oleh salah seorang pelayan Raja, atau seseorang yang lebih miskin, yang membutuhkannya untuk membeli sebuah roti dan yang memohon agar raja dikaruniai umur panjang."
"Sekali lagi kamu berbicara benar," balas sang Raja, merasakan kebenaran dari komentar Ratu; dan sekali lagi nelayan tersebut dibawa untuk menghadap ke istana. "Apakah kamu ini manusia atau binatang buas?" Raja bertanya kepadanya. "Walaupun kamu mungkin sudah kaya tanpa harus bekerja keras lagi, tetapi sifat pelit dalam dirimu tidak membiarkan kamu untuk meninggalkan satu koin kecil untuk orang lain." Lalu sang Raja memerintahkan nelayan tersebut untuk pergi dan tidak menampakkan lagi wajahnya di dalam kota kerajaannya.
Nelayan berlutut memohonSaat itu nelayan tersebut berlutut pada kedua kakinya dan menangis: "Dengarkanlah hamba, Oh sang Raja, pelindung rakyat miskin! Semoga Tuhan memberkahi Tuanku dengan umur panjang. Bukan nilai dari koin tersebut yang hamba pungut, tetapi karena pada satu sisi koin tersebut tertera tulisan pujian atas nama Tuhan, dan disisi lainnya tergambar wajah Raja. Hamba takut bahwa seseorang, mungkin dengan tidak sengaja karena tidak melihat koin tersebut, akan menginjaknya. Biarlah sang Raja yang menentukan apakah yang saya lakukan ini pantas untuk dicela atau tidak."
Jawaban tersebut membuat sang Raja sangat senang tidak terhingga, dan memberikan lagi nelayan terseut sejumlah besar uang. Dan kemarahan Ratu saat itu juga menjadi reda, dan dia menjadi sadar dan melihat dengan ramah terhadap nelayan tersebut yang pergi dengan kantung yang dimuati dengan uang.

PEREMPUAN TUA DAN HANTU JADI-JADIAN


Dahulu kala ada seorang wanita tua yang sangat-sangat gembira dan selalu penuh dengan sukacita, walaupun hampir tidak memiliki apa-apa, dan dia sudah tua, miskin dan tinggal sendirian. Dia tinggal di sebuah pondok kecil dan menghidupi dirinya dengan membantu tetangganya mengantarkan pesanan, dia hanya mendapatkan sedikit makanan, sedikit sup sebagai upahnya. Dia selalu giat bekerja dan selalu terlihat.
Disuatu sore, di musim panas, ketika dia  berjalan pulang ke rumahnya, dengan penuh senyuman seperti biasanya, dia menemukan sebuah pot hitam yang besar tergeletak di tanah!
"Oh Tuhan!" katanya, "Pot ini akan menjadi tempat yang bagus untuk menyimpan sesuatu apabila saya mempunyai apa-apa yang dapat disimpan disana! Sayangnya saya tidak memiliki apa-apa! Siapa yang telah meletakkan pot ini disini?"
Kemudian dia melihat ke sekeliling berharap bahwa pemiliknya tidak jauh dari sana, tapi dia tidak melihat siapapun disana.
"Mungkin pot ini memiliki lubang," katanya lagi,"dan karena itulah pot ini dibuang. Tapi pot ini akan sangat bagus bila saya meletakkan setangkai bunga dan menaruhnya di jendela rumahku, saya akan membawanya pulang."
Dan ketika dia mengangkat tutupnya dan melihat ke dalam. "Ya ampun!" teriaknya dengan terkagum-kagum. "Penuh dengan emas. Betapa beruntungnya saya!"
Di dalam pot tersebut dilihatnya tumpukan koin emas yang berkilap. Saat itu dia begitu terpana dan tidak bergerak sama sekali, kemudian akhirnya dia berkata
"Saya merasa sangat kaya sekarang, benar-benar kaya raya!"
Setelah dia mengucapkan kata-kata ini beberapa kali, dia mulai berpikir bagaimana dia dapat membawa harta karun itu kerumahnya. Pot berisi emas itu begitu berat untuk dibawa, dan dia tidak menemukan cara yang baik selain mengikat pot itu pada ujung selendangnya dan menariknya sampai ke rumah.
"Sebentar lagi hari akan menjadi gelap," katanya sendiri dan mulai berjalan. "Ah.. sekarang lebih baik! karena tetanggaku tidak akan melihat apa yang saya bawa pulang ke rumah, dan saya bisa sendirian saja sepanjang malam, memikirkan apa yang saya akan lakukan dengan emas ini! mungkin saya akan membeli rumah yang besar dan duduk-duduk di perapiannya sambil menikmati secangkir teh dan tidak bekerja lagi seperti seorang Ratu. Atau mungkin saya akan mengubur emas ini di taman dan meyimpan sedikit emas ini di teko tua ku, atau mungkin .. wah.. wah.. saya merasa tidak mengenal diri saya sekarang."
Sekarang dia merasa lelah karena menarik pot yang berat itu,  berhenti sejenak untuk beristirahat, dan berbalik melihat ke hartanya.
Dan dilihatnya pot itu tidak berisi emas, tapi hanya tumpukan koin perak di dalamnya.
Dia menatap pot itu dan menggosok matanya, dan menatap kembali.
"Saya berpikir bahwa pot tadi berisi emas! Saya mungkin bermimpi. Tapi ini adalah keberuntungan! Perak lebih tidak menyusahkan, gampang di pakai, dan tidak mudah dicuri. Koin emas mungkin membawa kematian untuk saya, dan dengan setumpuk koin perak ini..."
kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya, dan merasa seperti orang kaya, hingga akhirnya dia keletihan lagi dan berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan saat itu dia tidak melihat perak, melainkan setumpuk besi!
"Saya menyangka pot itu berisi perak! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! sungguh menyenangkan. Saya dapat menjual dan mendapatkan satu penny untuk satu besi tua ini, dan satu penny lebih gampang di bawa dan di atur dibandingkan emas dan perak. Mengapa! karena saya tidak harus tidur dengan gelisah karena takut di rampok. Tapi satu penny betul-betul dapat berguna dan saya seharusnya menjual besi-besi itu dan menjadi kaya, benar-benar kaya."

kemudian dia berjalan lagi sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya dengan uang penny nya nanti, hingga sekali lagi dia berhenti beristirahat dan menengok kembali apakah hartanya masih aman; dan kali ini dia tidak melihat apa-apa selain batu-batu besar dalam pot itu.
"Saya menyangka pot itu berisi besi! saya pasti bermimpi, Tapi ini adalah keberuntungan! karena saya sudah lama menginginkan batu besar untuk menahan agar pintu pagar saya tetap terbuka. Sungguh hal yang baik memiliki keberuntungan."

Dia menjadi sangat ingin melihat bagaimana batu itu nanti bisa menahan pintu pagarnya agar selalu terbuka, dia akhirnya berjalan terus hingga tiba di pondoknya. Dia membuka pintu pagarnya, berbalik untuk melepaskan selendangnya dari batu besar yang tergeletak di belakangnya. Tetapi apa yang dilihatnya bukanlah batu besar, melainkan serpihan-serpihan batu.
Sekarang dia membungkuk dan melepaskan ujung selendangnya, dan - "Oh!" Tiba-tiba dia terlonjak kaget, sebuah jeritan, dan mahkluk yang sebesar tumpukan jerami, dengan empat kaki yang panjang dan dua telinga yang panjang, memiliki ekor panjang, menendang-nendang ke udara sambil memekik dan tertawa seperti anak yang nakal!
Wanita tua itu memandangnya sampai makhluk itu menghilang dari pandangan, kemudian akhirnya perempuan itu tertawa juga.
"Baiklah!" katanya sambil tertawa, "Saya beruntung! Cukup beruntung. Sungguh senang bisa melihat hantu jadi-jadian dengan mata kepala sendiri, dan bebas darinya juga! Ya Tuhan, saya merasa sangat bahagia!"
Kemudian dia masuk ke pondoknya dan tertawa sepanjang malam membayangkan kejadian tadi dan merasa betapa beruntungnya dia hari ini.

PENEBANG KAYU YANG TIDAK TAHU BERTERIMA KASIH


Pada jaman dahulu, di suatu desa, ada seorang penebang kayu yang sangat miskin, sehingga dia hanya mempunyai sebuah kapak untuk bekerja dan menghidupi anak-anak dan istrinya. Dengan sangat sulit dia bisa memperoleh enam ribu rupiah setiap hari. Dia dan istrinya harus bekerja membanting tulang dari subuh hingga larut malam agar mereka dapat hidup dengan tidak kehabisan makanan. Apabila mereka beristirahat, mereka tidak akan mendapatkan apa-apa.
"Apa yang harus saya lakukan?" katanya, suatu hari, "Saya sekarang sangat lelah, istri dan anakku tidak memiliki apa-apa untuk dimakan, dan saya sudah tidak sekuat dulu lagi memegang kapak ini, untuk memperoleh sekerat roti untuk keluargaku. Ah, begitu buruknya nasib bagi orang miskin, ketika mereka dilahirkan ke dunia ini."
Sementara dia masih berkeluh-kesah, sebuah suara memanggilnya dengan penuh rasa iba: "Apa yang kamu keluhkan?"
"Bagaimana saya tidak suka mengeluh, saya sangat miskin dan setiap hari kekurangan makanan?" katanya. "Pulanglah ke rumahmu," kata suara itu, "galilah tanah di sudut pekaranganmu, dan kamu akan menemukan harta karun di bawah sebuah dahan yang telah mati.
Ketika penebang kayu ini mendengar hal ini, dia langsung berlutut di tanah, dan berkata: "Tuan, siapakah nama tuan? siapakah tuan yang begitu baik hati?"
"Namaku Merlin," kata suara itu.
"Ah! Tuan, Tuhan akan memberkahimu apabila kamu datang menolongku dan menyelamatkan keluargaku dari kemelaratan."
"Pergilah cepat," kata suara itu, "dan dalam satu tahun, kembalilah ke sini, dan berikanlah saya penjelasan tentang apa saja yang kamu lakukan dengan uang yang kamu temukan di sudut pekaranganmu."
"Tuan, Saya akan mengunjungimu dalam satu tahu, atau setiap hari, apabila kamu memerintahkan saya."
Lalu sang penebang kayu pulang ke rumahnya, menggali tanah pada sudut pekarangannya dan disana dia menemukan harta karun yang telah dijanjikan. Betapa gembiranya mereka sekeluarga karena telah lepas dari kemiskinan.
Karena tidak ingin tetangganya tahu mengapa mereka tiba-tiba menjadi kaya, dia masih pergi ke dalam hutan dengan membawa kapak, sehingga seolah-olah dia bekerja keras dan secara perlahan-lahan terangkat dari kemiskinan menjadi kemakmuran.
Pada akhir tahun, dia pergi ke dalam hutan untuk memenuhi janjinya. Dan suara itu berkata, "Jadi kamu akhirnya datang!" "Ya Tuan," "Dan bagaimana kamu membelanjakan harta tersebut?" "Tuan, keluargaku sudah dapat makan makanan yang baik dan berpakaian yang bagus, dan kami selalu berterima kasih kepadamu setiap hari."
"Keadaan kamu sekarang menjadi lebih baik kalau begitu, tapi katakan padaku, apakah masih ada hal yang kamu inginkan?" "Ah, ya, Tuan, saya ingin menjadi walikota di tempat saya."
"Baiklah, dalam empat puluh hari kamu akan menjadi walikota."
"Oh, beribu-ribu terima kasih, pelingdungku yang baik."
Pada tahun kedua, penebang kayu yang kaya datang ke hutan dengan baju baru yang sangat baik dan mengenakan atribut bahwa dia adalah walikota.
"Bapak Merlin," panggilnya, "datanglah dan berbicaralah padaku."
"Saya di sini," kata suara itu, "apa yang kamu harapkan?"
"Seorang pejabat tinggi baru saja meninggal kemarin, dan anak laki-laki saya, dengan bantuanmu, ingin menggantikannya, Saya meminta kebaikan hatimu."
"Dalam empat puluh hari, hal yang kamu inginkan akan terwujud," kata Merlin.
Begitu pula dalam empat puluh hari, anaknya menjadi pejabat tinggi, dan mereka masih juga belum puas.
Pada akhir tahun ketiga, penebang kayu tersebut mencari lagi Merlin di hutan, dan dengan suara yang merendahkan, dia berkata "Merlin, maukah kamu membantu saya?"
"Apa yang kamu kehendaki?" kata suara itu.
"Putriku berharap agar dapat menikah dengan seorang pejabat," katanya. "Harapanmu akan terwujud," balas Merlin, dan dalam empat puluh hari, anak perempuan penebang kayu itu menikah dengan seorang pejabat.
Dan begitulah akhirnya waktu terus berlalu, hingga pada akhir tahun keempat, istrinya yang bijaksana menyuruhnya kembali kesana untuk berterima kasih, tetapi penebang kayu itu menjawab:"Mengapa saya harus masuk kembali ke hutan itu untuk berbicara dengan mahluk yang tidak pernah saya lihat? Saya sekarang sangat kaya, mempunyai banyak teman, dan namaku sangat di hormati semua orang."
"Pergilah sekali lagi," kata istrinya, "Kamu harus memberi dia salam dan berterima kasih atas segala kebaikannya."
Akhirnya penebang kayu itu dengan menunggangi kudanya, diikuti oleh dua orang pelayan, masuk ke dalam hutan dan mulai berteriak: "Merlot! Merlot! Saya tidak membutuhkan kamu lagi, karena sekarang saya cukup kaya." Merlin membalasnya, "Sepertinya kamu lupa saat kamu masih miskin, tidak cukup makan, dengan hanya berbekal kapak, kamu dengan susah payah mendapatkan enam ribu rupiah setiap hari! Saya memberikan kamu berkah pertama kali, kamu berlutut dengan kedua kakimu, dan memanggil saya 'Tuan', setelah berkah kedua, kamu hanya memanggil saya 'Bapak' dan setelah yang ketiga, kamu memanggilku dengan 'Merlin' saja, sekarang dengan sombongnya kamu memanggilku 'Merlot'! kamu mungkin berpikir bahwa kamu sudah sangat kaya dan hidup dengan baik dan tidak memerlukan lagi saya, Mari kita lihat nanti, selama ini kamu tidak memiliki hati yang baik dan selalu bertindak bodoh, tetaplah menjadi bodoh, dan tetaplah menjadi miskin seperti saat pertama saya bertemu dengan kamu." Penebang kayu itu tertawa terbahak-bahak, mengangkat bahunya dan tidak mempercayai apa yang dikatakan kepadanya.
Dia kembali ke rumahnya, tapi dengan cepat anaknya yang sekarang menjadi pejabat tinggi, meninggal, putrinya yang menjadi istri seorang pejabat juga menderita sakit keras dan akhirnya meninggal. Kesialan menimpanya terus menerus dan saat perang pecah, serdadu dari kedua belah pihak yang berperang, memasuki rumahnya, merampas minuman dan makanan yang ada di lumbungnya, membakar semua ladangnya, juga rumahnya, hingga dia tidak memiliki uang satu lembar pun pun.
Ketika tiba masa untuk membayar pajak, dia tidak mempunyai uang di kantongnya, sehingga dia terpaksa menjual semua ladangnya. "Lihat," kata penebang kayu yang tidak tahu berterimakasih itu, sambil menangis, "Saya telah kehilangan semua yang saya miliki, uang, ladang, kuda, anak-anakku! Mengapa saya tidak percaya kepada Merlin? hanya kematian yang belum menjemput saya, saya sudah tidak tahan dengan penderitaan ini."
"Tidak begitu," kata istrinya yang bijaksana, "Kita harus mulai bekerja keras kembali." "Dengan apa?" kata penebang kayu, "Kita bahkan sudah tidak memiliki seekor keledaipun untuk bekerja!"
"Dengan apa yang Tuhan berikan kepada kita," kata istrinya lagi.
Tuhan hanya memberikan mereka sebuah keranjang, yang dipinjam dari tetangganya. Dengan keranjang ini di punggungnya dan kapak di tangannya, dia akhirnya masuk ke hutan untuk bekerja menebang kayu, mencoba untuk mencari kayu untuk mendapatkan enam ribu rupiah sehari.
Semenjak itu, dia tidak pernah mendengar suara Merlin lagi.

PASIR DAN BATU


Dua orang sahabat sedang berjalan di padang pasir. Selama dalam perjalanan mereka berdebat tentang sesuatu. Salah seorang dari kedua sahabat itu menampar temannya, dan yang ditampar itu merasa sakit tetapi dia tak berkata apa apa, hanya menulis diatas tanah : "HARI INI TEMAN BAIKKU MENAMPARKU"
Mereka tetap berjalan sampai mereka menemukan sebuah oasis (sumber air), mereka sepakat untuk mandi, teman yang telah ditampar tergelincir dan hampir saja tenggelam di oasis tersebut, tetapi temannya datang dan menolongnya, dan setelah diselamatkan oleh temannya dari bahaya, dia menulis di Batu "HARI INI TEMAN BAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU"
Teman yang telah menampar dan yang telah menyelamatkan nyawa teman baiknya itu bertanya kepadanya, "Setelah saya menyakitimu, kamu menulisnya di tanah dan sekarang, kamu menulisnya diatas batu, mengapa?
Temannyapun menjawab : "Ketika seseorang menyakiti kita, kita harus menulisnya diatas tanah, agar angin dapat menerbangkannya dan dapat menghapusnya sehingga dapat termaafkan. Tetapi ketika seseorang melakukan sesuatu yang baik kepada kita, kita harus mengukirnya diatas batu dimana tak ada angin yang dapat menghapusnya"
 "Tulislah sakit hatimu di atas tanah, dan Ukirlah kebaikan diatas batu"

ORANG TUA DAN SETAN


Dahulu kala ada seorang laki-laki tua yang mempunyai benjolan besar di sebelah kanan wajahnya.
Suatu hari dia pergi ke gunung untuk memotong kayu, ketika hujan mulai turun dan angin bertiup sangat kencang, dia merasa tidak mungkin untuk pulang ke rumah, dengan ketakutan, dia mengambil tempat perlindungan di dalam rongga sebuah pohon tua. Ketika duduk meringkuk dan tak dapat tidur, dia mendengar bunyi banyak suara yang membingungkan di kejauhan yang perlahan-lahan mendekat ke arah mana dia berada. Dia berkata kepada sendiri: "Aneh sekali!" Saya menyangka saya seorang diri saja di gunung ini, tetapi saya mendengar suara banyak orang disini." Oleh sebab itu, dengan sedikit keberanian, dia mengintip, dan melihat kerumunan besar dari orang-orang yang kelihatan aneh. Ada yang berwarna merah, dan berpakaian hijau; yang lainnya berwarna hitam dan berpakaian merah; ada yang hanya memiliki satu mata; sedangkan yang lain tidak mempunyai mulut; memang, sangat tidak mungkin untuk menggambarkan berbagai macam bentuk dan keanehan mereka. Mereka menyalakan api, sehingga menjadi sangat terang seperti di siang hari. Mereka duduk dalam dua barisan yang melintang, dan mulai meminum anggur dan bergembira seperti manusia. Mereka mengedarkan cangkir minuman anggur begitu sering sehingga banyak dari mereka kelihatannya minum terlalu banyak. Salah satu setan muda bangun dan mulai menyanyikan lagu gembira dan menari; begitu juga dengan yang lainnya; beberapa dapat menari dengan baik dan yang lainnya menari dengan sangat buruk. Salah satunya berkata : "Kita sudah menikmati kesenangan yang luar biasa malam ini, tetapi saya lebih suka melihat hal-hal yang baru."
Lalu orang tua itu, hilang rasa takutnya, berpikir bahwa dia juga ingin menari, dan berkata, "Apa yang akan terjadi, terjadilah, bila karena hal ini saya harus meninggal, saya harus tetap akan menari juga," Dia menyelinap keluar dari rongga pohon dan, dengan penutup kepala yang diselipkan menutupi hidungnya dan kapak yang tergantung di pinggangnya, dia mulai menari. Setan-setan itu terlonjak kaget dan berkata, "Siapa ini?" tetapi orang tua itu berayun maju mundur, ke kiri dan ke kanan, semua kerumunan tersebut tertawa dan menikmati tarian yang dibawakan oleh orang tua itu, dan berkata: "Orang tua itu menari dengan sangat bagus! Kamu harus selalu datang dan menemani kami menari disini, tetapi, kami takut kamu mungkin tidak akan datang, jadi kamu harus memberi kami jaminan bahwa kamu akan datang." Jadi setan-setan tersebut mulai berunding sesamanya, dan, setuju bahwa benjolan di wajah orang tua itu adalah kekayaan yang pasti sangat tinggi nilainya, dan menuntut untuk diambil sebagai jaminan. Orang tua itu membalas berkata: "Saya memiliki benjolan ini selama bertahun-tahun, dan saya tidak memiliki alasan untuk berpisah dengan benjolan ini, tetapi kamu bisa mengambilnya, atau sebuah mataku, hidung atau apapun yang kamu inginkan." Lalu setan tersebut memegang benjolan tersebut, memutar dan menariknya, mengambilnya tanpa menimbulkan rasa sakit sedikitpun, dan menyimpannya sebagai jaminan bahwa orang tua itu akan kembali. Ketika hari mulai fajar, burung-burung mulai bernyanyi, setan-setan tersebut terburu-buru untuk pergi.
Orang tua itu meraba wajahnya dan menemukan bahwa wajahnya menjadi mulus tanpa ada benjolan besar lagi di wajahnya. Dia lupa akan kayu yang dipotongnya dan terburu-buru untuk pulang. Istrinya, begitu melihat dia, berteriak kegirangan dan berkata, "Apa yang terjadi denganmu?" Lalu orang tua itu menceritakan semua kisah yang terjadi padanya.
Saat itu, diantara tetangganya, ada orang tua juga yang memiliki benjolan di sebelah kiri wajahnya. Mendengan bahwa orang tua yang pertama tadi berhasil menyingkirkan kesialannya, dia berencana untuk melakukan hal yang sama, Lalu dia berangkat ke gunung dan menyelinap ke rongga pohon yang disebutkan oleh orang tua pertama dan menunggu hingga setan-setan tersebut muncul. Dengan keyakinan penuh, setan-setan tersebut datang seperti yang dikatakan, dan mereka mulai duduk, meminum anggur dan bergembira seperti sebelumnya. Orang tua yang kedua ini, ketakutan dan mulai gemetar, menyelinap keluar dari rongga pohon. Setan-setan tersebut menyambut kedatangannya dan berkata: "Orang tua ini telah datang, mari kita lihat dia menari." Tetapi orang tua yang satu ini sangat kaku dan menari tidak sebaik orang tua yang pertama, sehingga setan-setan itu berteriak: "Tarian kamu sangat jelek dan bertambah buruk dan buruk, kami akan memberikan kamu kembali benjolan yang kami ambil sebagai jaminan." Saat itu, setan yang membawa benjolan tersebut menempelkannya pada sisi wajah kanan si orang tua itu; orang tua yang sial itu akhirnya pulang kerumah dengan benjolan pada kedua sisi wajahnya.

KURA-KURA DAN SEPASANG ITIK


Seekor kura-kura, yang kamu tahu selalu membawa rumahnya di belakang punggungnya, dikatakan tidak pernah dapat meninggalkan rumahnya, biar bagaimana keras kura-kura itu berusaha. Ada yang mengatakan bahwa dewa Jupiter telah menghukum kura-kura karena kura-kura tersebut sangat malas dan lebih senang tinggal di rumah dan tidak pergi ke pesta pernikahan dewa Jupiter, walaupun dewa Jupiter telah mengundangnya secara khusus.
Setelah bertahun-tahun, si kura-kura mulai berharap agar suatu saat dia bisa menghadiri pesta pernikahan. Ketika dia melihat burung-burung yang beterbangan dengan gembira di atas langit dan bagaimana kelinci dan tupai dan segala macam binatang dengan gesit berlari, dia merasa sangat ingin menjadi gesit seperti binatang lain. Si kura-kura merasa sangat sedih dan tidak puas. Dia ingin melihat dunia juga, tetapi dia memiliki rumah pada punggungnya dan kakinya terlalu kecil sehingga harus terseret-seret ketika berjalan.
Suatu hari dia bertemu dengan sepasang itik dan menceritakan semua masalahnya.
Kura-kura dan Itik
"Kami dapat menolongmu untuk melihat dunia," kata itik tersebut. "Berpeganglah pada kayu ini dengan gigimu dan kami akan membawamu jauh ke atas langit dimana kamu bisa melihat seluruh daratan di bawahmu. Tetapi kamu harus diam dan tidak berbicara atau kamu akan sangat menyesal."
Kura-kura tersebut sangat senang hatinya. Dia cepat-cepat memegang kayu tersebut erat-erat dengan giginya, sepasang itik tadi masing-masing menahan kedua ujung kayu itu dengan mulutnya, dan terbang naik ke atas awan.
Saat itu seekor burung gagak terbang melintasinya. Dia sangat kagum dengan apa yang dilihatnya dan berkata:
"Kamu pastilah Raja dari kura-kura!"
"Pasti saja......" kura-kura mulai berkata.
Tetapi begitu dia membuka mulutnya untuk mengucapkan kata-kata tersebut, dia kehilangan pegangan pada kayu tersebut dan jatuh turun ke bawah, dimana dia akhirnya terbanting ke atas batu-batuan yang ada di tanah.
Rasa ingin tahu yang bodoh dan kesombongan sering menyebabkan kesialan.

KELEDAI YANG MEMAKAI KULIT SINGA


Seekor keledai menemukan sebuah kulit singa yang telah ditinggalkan oleh sang pemburu di dalam hutan. Dia kemudian memakai kulit singa itu dan menghibur dirinya dengan cara bersembuyi di semak-semak dan tiba-tiba meloncat keluar untuk menakut-nakuti binatang yang lewat di tempat itu. Semua binatang yang kebetulan lewat, menjadi takut dan lari dari tempat itu ketika melihat keledai yang mereka kira singa.
Keledai tersebut begitu senang melihat semua binatang lari menjauh darinya, seolah-olah dirinya adalah raja hutan, sehingga karena terlalu bangga dan senangnya, dia mulai mengaum dengan keras, tetapi bukanlah auman singa yang keluar dari mulutnya, melainkan cuma ringkikan keledai yang parau. Seekor rubah yang tadinya ikut lari bersama dengan binatang lainnya, menjadi terhenti ketika mendengar suara itu. Perlahan-lahan dia mendekati keledai itu dan menyadari bahwa yang menakut-nakuti seluruh binatang yang lewat di tempat itu hanyalah seekor keledai yang memakai kulit singa. Rubah itu kemudian berkata sambil tertawa:
"Jika kamu menutup mulutmu, mungkin saya akan berlari ketakutan juga. Tetapi kamu kamu malah mengaum dan mengeluarkan suara ringkikanmu yang parau."
Orang bodoh mungkin bisa menipu dengan pakaian dan penampilannya, tetapi dari perkataanya, orang lain akan segera tahu siapa dirinya sebenarnya.
Keledai memakai kulit singa

BURUNG ELANG DAN BURUNG GAGAK


Seekor burung Elang, dengan kekuatan sayapnya menyambar seekor anak domba dengan kukunya dan membawanya pergi jauh ke angkasa, seekor burung gagak melihat kejadian itu, dan terbayang dibenaknya sebuah gagasan bahwa dia mempunyai kekuatan untuk melakukan hal yang sama dengan burung elang tersebut. Dan dengan membuka sayapnya lebar-lebar kemudian terbang di udara dengan galaknya, dia meluncur kebawah dan dengan cepat menghamtam bagian punggung seekor domba, tetapi ketika dia mencoba untuk terbang kembali dia baru sadar kalau dia tidak bisa mengangkat domba tersebut dan dia tidak dapat terbang lagi karena kukunya telah terjerat pada bulu domba, walaupun dia mencoba untuk melepaskan dirinya, jeratan itu terlalu sulit untuk dilepaskan sehingga dia merasa putus ada dan tetap tinggal di atas punggung domba tersebut.
Seorang pengembala yang melihat burung gagak itu mengibas-ngibaskan sayapnya berusaha melepaskan diri, pengembala itu menyadari apa yang telah terjadi, pengembala itupun berlari dan segera menangkap burung itu dan mengikat dan mengurung burung gagak tersebut, setelah menjelang sore dia memberikan burung gagak itu kepada anak-anaknya di rumah untuk bermain.
"Betapa lucunya burung ini!" mereka sambil tertawa, "ini disebut burung apa ayah?"
"itu burung gagak, anakku. Tetapi jika kamu bertanya kepadanya, dia akan menjawab dia adalah seekor burung elang."
Jangan biarkan kesombonganmu membuat kamu lupa diri akan kemampuanmu

Elang yang menyambar anak domba

ENAM SERDADU YANG PERKASA


Pada suatu masa ada seorang pria yang hebat, dia telah membaktikan diri pada negara dalam perang, dan mempunyai keberanian yang luar biasa, tetapi pada akhirnya dia dipecat tanpa alasan apapun dan hanya memiliki 3 keping uang logam sebagai hartanya.
"Saya tidak akan diam saja melihat hal ini," katanya; "tunggu hingga saya menemukan orang yang tepat untuk membantu saya, dan raja harus memberikan semua harta dari negaranya sebelum masalah saya dengan dia selesai."
Kemudian, dengan penuh kemarahan, dia masuk ke dalam hutan, dan melihat satu orang berdiri disana mencabuti enam buah pohon seolah-olah pohon itu adalah tangkai-tangkai jagung. Dan dia berkata kepada orang itu,
"Maukah kamu bergabung menjadi kelompokku, dan ikut dengan saya?"
"Baiklah," jawab orang itu; "Saya harus membawa pulang sedikit kayu-kayu ini terlebih kerumah ayah dan ibuku." Dan mengambil satu persatu pohon tersebut, dan menggabungkannya dengan 5 pohon yang lain dan memanggulnya di pundak, dia lalu berangkat pergi; segera setelah dia datang kembali, dia lalu ikut bersama dengan pimpinannya, yang berkata,
"Berdua kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Dan tidak lama mereka berjalan, mereka bertemu dengan satu orang pemburu yang berlutut pada satu kaki dan dengan hati-hati membidikkan senapannya.
"Pemburu," kata si pemimpin, "apa yang kamu bidik?"
"Dua mil dari sini," jawabnya, "ada seekor lalat yang hinggap pada pohon Oak, Saya bermaksud untuk menembak mata kiri dari lalat tersebut."
"Oh, ikutlah bergabung dengan saya," kata si Pemimpin, "Bertiga kita bisa menghadapi seluruh dunia"
Pemburu tersebut sangat ingin ikut dengannya, jadi mereka semua berangkat bersama hingga mereka menemukan tujuh kincir angin, yang baling-baling layarnya berputar dengan kencang, walaupun disana tidak ada angin yang bertiup dari arah manapun, dan tak ada daun-daun yang bergerak.
"Wah," kata si Pemimpin, "Saya tidak bisa berpikir apa yang menggerakkan kincir angin, berputar tanpa angin;" dan ketika mereka berjalan sekitar dua mil ke depan, mereka bertemu dengan seseorang yang duduk diatas sebuah pohon, sedang menutup satu lubang hidungnya dan meniupkan napasnya melalui lubang hidung yang satu.
"Hai kawan," kata si Pemimpin, "Apa yang kamu lakukan diatas sana?"
"Dua mil dari sini," jawab orang itu, "disana ada tujuh kincir angin; saya meniupnya hingga mereka dapat berputar."
"Oh, ikutlah bergabung dengan saya," bujuk si Pemimpin, "Berempat kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi si Peniup turun dan berangkat bersama mereka, dan setelah beberapa saat, mereka bertemu dengan seseorang yang berdiri diatas satu kaki, dan kaki yang satunya dilepas, tergeletak tidak jauh darinya.
"Kamu terlihat mempunyai cara yang unik saat beristirahat," kata si Pemimpin kepada orang itu.
"Saya adalah seorang pelari," jawabnya, "dan untuk menjaga agar saya tidak bergerak terlalu cepat Saya telah melepas sebuah kaki saya, Jika saya menggunakan kedua kaki saya, Saya akan jauh lebih cepat dari pada burung yang terbang."
"Oh, ikutlah bergabung dengan saya," kata si Pemimpin, "Berlima kita bisa menghadapi seluruh dunia."
Jadi mereka akhirnya berangkat bersama, dan tidak lama setelahnya, mereka bertemu dengan seseorang yang memakai satu topi kecil, dan dia memakainya hanya tepat diatas satu telinganya saja.
"Bersikaplah yang benar! bersikaplah yang benar!" kata si Pemimpin; "dengan topi seperti itu, kamu kelihatan seperti orang bodoh."
"Saya tidak berani memakai topi ini dengan lurus," jawabnya lagi, "Jika saya memakainya dengan lurus, akan terjadi badai salju dan semua burung yang terbang akan membeku dan jatuh mati dari langit ke tanah."
Oh, ikutlah dengan saya," kata si Pemimpin; "Kita berenam saya Si Pemimpin, Si Tangan Kuat, Si Pemburu, Si Peniup, Si Pelari Cepat dan Si Pembuat Badai, kita bisa menghadapi seluruh dunia." 
Jadi orang yang keenam ikut berangkat bersama hingga mereka mencapai kota dimana raja yang menyebabkan penderitaannya akan memulai pertandingan dimana siapapun yang jadi pemenang akan dinikahkan dengan putrinya, tetapi siapapun yang kalah akan dibunuh sebagai hukumannya. Lalu si Pemimpin maju kedepan dan berkata bahwa satu dari orangnya akan mewakili dirinya dalam pertandingan tersebut.
"Kalau begitu," kata raja, "hidupnya harus dipertaruhkan, dan jika dia gagal, dia dan kamu harus dihukum mati."
Ketika si Pemimpin telah setuju, dia memanggil si Pelari, dan memasangkan kakinya yang kedua pada si Pelari.
"Sekarang, lihat baik-baik," katanya, "dan berjuanglah agar kita menang."
Telah disepakati bahwa siapapun yang paling pertama bisa membawa pulang air dari anak sungai yang jauh dan telah ditentukan itu akan dianggap sebagai pemenang. Sekarang putri raja dan si Pelari masing-masing mengambil kendi air, dan mereka mulai berlari pada saat yang sama; tetapi dalam sekejap, ketika putri raja tersebut berlari agak jauh, si Pelari sudah hilang dari pandangan karena dia berlari secepat angin. Dalam sekejap dia telah mencapai anak sungai, mengisi kendinya dengan air dan berlari pulang kembali. Ditengah perjalanan pulang, dia mulai merasa kelelahan, dan berhenti, menaruh kendinya dilantai dan berbaring di tanah untuk tidur. Agar dapat terbangun secepatnya dan tidak tertidur pulas, dia mengambil sebuah tulang tengkorak kuda yang tergeletak didekatnya dan menggunakannya sebagai bantal. Sementara itu, putri raja, yang sebenarnya juga pelari yang baik dan cukup baik untuk mengalahkan orang biasa, telah mencapai anak sungai juga, mengisi kendinya dengan air, dan mempercepat larinya pulang kembali, saat itu dia melihat si Pelari yang telah tertidur di tengah jalan.
"Hari ini adalah hari keberuntunganku," dia berkata dengan gembira, dan dia mengosongkan dan membuang air dari kendi si Pelari dan berlari pulang. Sekarang hampir semuanya telah hilang tetapi si Pemburu yang juga berdiri di atas dinding kastil, dengan matanya yang tajam dapat melihat semua yang terjadi.
"Kita tidak boleh kalah dari putri raja," katanya, dan dia mengisi senapannya, mulai membidik dengan teliti dan menembak tengkorak kuda yang dijadikan bantal dibawah kepala si Pelari tanpa melukai si Pelari. Si Pelari terbangun dan meloncat berdiri, dan melihat kendinya telah kosong dan putri raja sudah jauh berlari pulang ke tempat pertandingan dimulai. Tanpa kehilangan keberaniannya, dia berlari kembali ke anak sungai, mengisi kendinya kembali dengan air, dan untuk itu, dia berhasil lari pulang kembali 10 menit sebelum putri raja tiba.
"Lihat," katanya; "ini adalah pertama kalinya saya benar-benar menggunakan kaki saya untuk berlari."
Raja menjadi jengkel, dan putrinya lebih jengkel lagi, karena dia telah dikalahkan oleh serdadu biasa yang telah dipecat. Mereka berdua sepakat untuk menyingkirkan serdadu beserta pengikutnya bersama-sama.
"Saya punya rencana," jawab sang Raja. "Jangan takut tetapi kita harus mendiamkan mereka selama-lamanya." Kemudian mereka menemui serdadu dan pengikutnya, mengundang mereka untuk makan dan minum. Sang Raja memimpin mereka menuju ke sebuah ruangan, yang lantainya terbuat dari besi, pintunya juga terbuat dari besi, dan di jendelanya terdapat rangka-rangka besi. Di dalam ruangan itu ada sebuah meja yang penuh dengan makanan.
"Sekarang, masuklah kedalam dan buatlah dirimu senyaman mungkin," kata sang Raja.
Ketika serdadu dan pengikutnya semua masuk, dia mengunci pintu tersebut dari luar. Dia kemudian memanggil tukang masak, dan menyuruhnya untuk membuat api yang sangat besar dibawah ruangan tersebut hingga lantai besi menjadi sangat panas. Dan tukang masak tersebut melakukan apa yang diperintahkan oleh Raja, dan keenam orang yang ada didalamnya mulai merasakan ruangan menjadi panas, tetapi mereka berpikir bahwa itu karena makanan yang mereka makan, seiring dengan suhu ruangan yang bertambah panas, mereka menyadari bahwa pintu dan jendela telah dikunci rapat, mereka menyadari rencana jahat sang raja untuk membunuh mereka.
"Bagaimanapun juga, dia tidak akan pernah berhasil," kata laki-laki dengan topi kecil; "Saya akan membawa badai salju yang akan membuat api merasa malu pada dirinya sendiri dan merangkak pergi."
Dia lalu memasang topinya lurus diatas kepala, dan secepat itu badai salju datang dan membuat semua udara panas menjadi hilang dan makanan menjadi beku diatas meja. Setelah satu atau dua jam berlalu, Raja menyangka bahwa mereka telah terbunuh karena panas, dan menyuruh untuk membuka kembali pintu ruangan tersebut, dan masuk kedalam untuk melihat keadaan mereka. Ketika pintu terbuka lebar, mereka berenam ternyata selamat dan terlihat mereka telah siap untuk keluar untuk menghangatkan diri karena ruangan tersebut terlalu dingin dan menyebabkan makanan di meja menjadi beku. Dengan penuh kemarahan, raja mendatangi tukang masak, mencaci dan menanyakan mengapa tukang masak itu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan.
"Ruangan tersebut cukup panas; kamu mungkin bisa melihatnya sendiri," kata tukang masak. Sang Raja melihat kebawah ruangan besi tersebut dan melihat api yang berkobar-kobar di bawahnya, dan mulai berpikir bahwa keenam orang itu tidak dapat disingkirkan dengan cara itu. Dia mulai memikirkan rencana baru, jadi dia memanggil serdadu yang menjadi pemimpin tersebut dan berkata kepadanya, "Jika kamu tidak ingin menikahi putri saya dan memilih harta berupa emas, kamu boleh mengambilnya sebanyak yang kamu mau."
"Baiklah, tuanku Raja," jawab si Pemimpin; "biarkan saya mengambil emas sebanyak yang dapat dibawa oleh pengikutku, dan saya tidak akan menikahi putrimu." Raja setuju bahwa si Pemimpin akan datang dalam dua minggu untuk mengambil emas yang dijanjikan. Si Pemimpin memanggil semua penjahit yang ada di kerajaan tersebut dan menyuruh mereka untuk membuat karung yang sangat besar dalam dua minggu. Dan ketika karung itu telah siap, orang kuat (yang dijumpai mencabut dan mengikat pohon) memanggul karung tersebut di pundaknya dan menghadap sang Raja.
"Siapa orang yang membawa buntalan sebesar rumah di pundaknya ini?" teriak sang Raja, ketakutan karena memikirkan banyaknya emas yang bisa dibawa pergi. Dan satu ton emas yang biasanya diseret oleh 16 orang kuat, hanya di panggulnya di pundak dengan satu tangan.
"Mengapa tidak kamu bawa lebih banyak lagi? emas ini hanya menutupi dasar dari kantung ini!" Jadi raja menyuruh untuk mengisinya perlahan-lahan dengan seluruh kekayaannya, dan walaupun begitu, kantung tersebut belum terisi setengah penuh.
"Bawa lebih banyak lagi!" teriak si Kuat; "harta-harta ini belum berarti apa-apa!" Kemudian akhirnya 7000 kereta yang dimuati dengan emas yang dikumpulkan dari seluruh kerajaan berakhir masuk dalam karungnya.
"Kelihatannya belum terlalu penuh," katanya, "tetapi saya akan membawa apa yang bisa saya bawa." walaupun dalam karung tersebut masih tersedia ruangan yang kosong.
"Saya harus mengakhirinya sekarang," katanya; "Jika tidak penuh, sepertinya lebih mudah untuk mengikatnya." Dan orang kuat itu lalu menaikkan karung tersebut dipunggungnya dan berangkat pergi bersama dengan teman-temannya.
Ketika sang Raja melihat semua kekayaan dari kerajaanya dibawa oleh hanya satu orang, dia merasa sangat marah, dan dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar keenam orang itu dan merampas kembali karung itu dari si Kuat.
Dua pasukan kuda segera dapat mengejar mereka, memerintahkan keenam orang itu untuk menyerah dan menjadi tawanan, dan mengembalikan kembali karung harta itu atau dibunuh.
"Menjadi tawanan, katamu?" kata orang yang bisa meniup, "mungkin kalian perlu menari-nari di udara bersama-sama." Lalu Si Peniup menutup satu lubang hidungnya, dan meniupkan napas melalui lubang yang satunya, pasukan tersebut beterbangan melewati atas gunung. Tetapi komandan yang memiliki sembilan luka dan merupakan orang yang pemberani, memohon agar mereka tidak dipermalukan. Si Peniup kemudian menurunkannya perlahan-lahan dan memerintahkan agar mereka melaporkan ke sang Raja bahwa pasukan apapun yang dikirim kan untuk mengejar mereka, akan mengalami nasib yang sama dengan pasukan ini. Dan ketika sang Raja mendapat pesan tersebut, berkata,
"Biarkanlah mereka; mereka mempunyai hak atas harta itu." Jadi keenam orang itu membawa pulang harta mereka, membagi-bagikannya dan hidup senang sampai akhir hayat mereka.

TUJUH BURUNG GAGAK



Dahulu, ada seorang laki-laki yang memiliki tujuh orang anak laki-laki, dan laki-laki tersebut belum memiliki anak perempuan yang lama diidam-idamkannya. Seiring dengan berjalannya waktu, istrinya akhirnya melahirkan seorang anak perempuan. Laki-laki tersebut sangat gembira, tetapi anak perempuan yang baru lahir itu sangat kecil dan sering sakit-sakitan. Seorang tabib memberitahu laki-laki tersebut agar mengambil air yang ada pada suatu sumur dan memandikan anak perempuannya yang sakit-sakitan dengan air dari sumur itu agar anak tersebut memperoleh berkah dan kesehatan yang baik. Sang ayah lalu menyuruh salah seorang anak laki-lakinya untuk mengambil air dari sumur tersebut. Enam orang anak laki-laki lainnya ingin ikut untuk mengambil air dan masing-masing anak laki-laki itu sangat ingin untuk mendapatkan air tersebut terlebih dahulu karena rasa sayangnya terhadap adik perempuan satu-satunya. Ketika mereka tiba di sumur dan semua berusaha untuk mengisi kendi yang diberikan kepada mereka, kendi tersebut jatuh ke dalam sumur. Ketujuh anak laki-laki tersebut hanya terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa untuk mengambil kendi yang jatuh, dan tak satupun dari mereka berani untuk pulang kerumahnya.
Ayahnya yang menunggu di rumah akhirnya hilang kesabarannya dan berkata, "Mereka pasti lupa karena bermain-main, anak nakal!" Karena takut anak perempuannya bertambah sakit, dia lalu berteriak marah, "Saya berharap anak laki-lakiku semua berubah menjadi burung gagak." Saat kata itu keluar dari mulutnya, dia mendengar kepakan sayap yang terbang di udara, sang Ayah lalu keluar dan melihat tujuh ekor burung gagak hitam terbang menjauh. Sang Ayah menjadi sangat menyesal karena mengeluarkan kata-kata kutukan dan tidak tahu bagaimana membatalkan kutukan itu. Tetapi walaupun kehilangan tujuh orang anak laki-lakinya, sang Ayah dan Ibu masih mendapatkan penghiburan karena kesehatan anak perempuannya berangsur-angsur membaik dan akhirnya anak perempuan tersebut tumbuh menjadi gadis yang cantik.
Gadis itu tidak pernah mengetahui bahwa dia mempunyai tujuh orang kakak laki-laki karena orangtuanya tidak pernah memberitahu dia, sampai suatu hari secara tidak sengaja gadis tersebut mendengar percakapan beberapa orang, "Gadis tersebut memang sangat cantik, tetapi gadis tersebut harus disalahkan karena mengakibatkan nasib buruk pada ketujuh saudaranya." Gadis tersebut menjadi sangat sedih dan bertanya kepada orangtuanya tentang ketujuh saudaranya. Akhirnya orangtuanya menceritakan semua kejadian yang menimpa ketujuh saudara gadis itu. Sang Gadis menjadi sangat sedih dan bertekad untuk mencari ketujuh saudaranya secara diam-diam. Dia tidak membawa apapun kecuali sebuah cincin kecil milik orangtuanya, sebuah roti untuk menahan lapar dan sedikit air untuk menahan haus.
Gadis tersebut berjalan terus, terus sampai ke ujung dunia. Dia menemui matahari, tetapi matahari terlalu panas, lalu dia kemudian menemui bulan, tetapi bulan terlalu dingin, lalu dia menemui bintang-bintang yang ramah kepadanya. Saat bintang fajar muncul, bintang tersebut memberikan dia sebuah tulang ayam dan berkata, "Kamu harus menggunakan tulang ini sebagai kunci untuk membuka gunung yang terbuat dari gelas, disana kamu akan dapat menemukan saudara-saudaramu.
Gadis tersebut kemudian mengambil tulang tersebut, menyimpannya dengan hati-hati di pakaiannya dan pergi ke arah gunung yang di tunjuk oleh bintang fajar. Ketika dia telah tiba di gunung tersebut, dia baru sadar bahwa tulang untuk membuka kunci gerbang gunung telah hilang. Karena dia berharap untuk menolong ketujuh saudaranya, maka sang Gadis lalu mengambil sebilah pisau, memotong jari kelinkingnya dan meletakkannya di depan pintu gerbang. Pintu tersebut kemudian terbuka dan sang Gadis dapat masuk kedalam, dimana seorang kerdil menemuinya dan bertanya kepadanya, "Anakku, apa yang kamu cari?" "Saya mencari tujuh saudaraku, tujuh burung gagak," balas sang Gadis. Orang kerdil tersebut lalu berkata, "Tuanku belum pulang ke rumah, jika kamu ingin menemuinya, silahkan masuk dan kamu boleh menunggunya di sini." Lalu orang kerdil tersebut menyiapkan makan siang pada tujuh piring kecil untuk ketujuh saudara laki-laki sang Gadis yang telah menjadi burung gagak. Karena lapar, sang Gadis mengambil dan memakan sedikit makanan yang ada pada tiap-tiap piring dan minum sedikit dari tiap-tiap gelas kecil yang ada. Tetapi pada gelas yang terakhir, dia menjatuhkan cincin milik orangtuanya yang dibawa bersamanya.
Tiba-tiba dia mendengar kepakan sayap burung di udara, dan saat itu orang kerdil itu berkata, "Sekarang tuanku sudah datang." Saat ketujuh burung gagak akan mulai makan, mereka menyadari bahwa seseorang telah memakan sedikit makanan dari piring mereka. "Siapa yang telah memakan makananku, dan meminum minumanku?" kata salah satunya. Saat burung gagak yang terakhir minum dari gelasnya, sebuah cincin masuk ke mulutnya dan ketika burung tersebut memperhatikan cincin tersebut, burung gagak tersebut berkata, "Diberkatilah kita, saudara perempuan kita yang tersayang mungkin ada disini, inilah saatnya kita bisa terbebas dari kutukan." Sang Gadis yang berdiri di belakang pintu mendengar perkataan mereka, akhirnya maju kedepan dan saat itu pula, ketujuh burung gagak berubah kembali menjadi manusia. Mereka akhirnya berpelukan dan pulang bersama ke rumah mereka dengan bahagia.